Selasa, 12 Juli 2011

There are Too Many Relative Things In This World

Manusia tak pernah puas. Sebuah ungkapan yang benar dan tak bisa disalahkan. Namun sifat manusia yang seperti itu pun tak bisa disalahkan. Kita sebagai manusia pasti selalu memiliki hasrat untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Masalahnya adalah apakah yang membuat sifat ini tidak bisa disalahkan?
Sejatinya, gak ada yang salah dan yang benar. Yang ada hanya terbiasa atau tidak terbiasa. Kultur di salah satu daerah di Papua memperkenankan istri kepala suku untuk menyusui tamu pria yang datang mengungjungi suku tersebut. Apa itu salah? Tidak  menurut mereka. Beberapa orang menganggap itu sebuah hal yang salah, hanya karena tidak terbiasa dengan fenomena tersebut.
Seperti dalam hal dipuji atau disanjung. Hakekatnya semua orang senang dipuji. Sederhananya, khususnya bagi para cowok, disebut ‘lucu’ oleh seorang wanita, apalagi pada pandangan pertama adalah sebuah pencapaian yang membanggakan, atau meng-ge-er-kan. Disebut ‘lucu’, bagi gue adalah hal yang langka terdengar oleh gue, terutama dari orang yang pertama kali melihat gue. Hal tersebut gak membuat gue terlalu kecewa, meskipun gue juga kadang pengin dinilai “baik” dari cover-nya.
Bagi yang bernasib seperti gue, gak perlu kecewa. Hampir semua cowok pasti merasakan dibilang ‘lucu’ di pertemuan pertama kok oleh seorang cewek. Ketika bayi, kita sebagai cowok, pasti pernah menerima sebutan ‘lucu’ dari seorang cewek pada pandangan pertama.
Seiring tumbuh, setidaknya gue sadar satu hal. Akhirnya ada juga orang yang menyebut gue ‘lucu’ setelah mengenal gue. Hal itu ternyata lebih menyenangkan.
Don’t judge a book by its cover, but its price. Karena harga, gak pernah bohong. There are too many relative things in this world.

0 ocehan:

Poskan Komentar

ShareThis