Rabu, 01 Februari 2012

YTH, Ayah yang Ku Harap Menjadi Ayahku

Dengan hormat (dan cinta untuk anak mu)
perkenalkan aku pria lancang yang mencintai anak kedua mu.
Pria ini mungkin tak sehebat Ayah. tapi jika bicara soal ketulusan, Aku berani menantang Ayah.
Mengapa Aku mengirim surat ini kepada Ayah, bukanya Ibu? Karena Ayah sangat mirip dengan anakmu yang aku cintai (keras dan dingin) pada awalnya dan perlahan mulai mencair.
aku harap kau juga seperti dia, anakmu.
Tidak. Aku tidak berniat menyuapmu dengan kata-kata berantakan di secarik kertas ini. Namun, bolehkah aku menyuap Ayah dengan ketulusan dan kebahagiaan untuk anakmu?
---
Ah, maaf, Ayah. Aku memang bukan dari 'khayangan' seperti Ayah. Aku berpijak tegap di bumi, diterpa angin, ditusuk dingin. Hanya mencoba terbang, itu yang bisa aku lakukan untuk meraih bidadari mu. Aku tidak tahu pasti cara yang benar, hanya mengikuti apa kata hati.
Aku bukan Sun-Go Kong yang bisa seenaknya naik ke kahyangan, Apalagi aku bukan Jaka Tarub yang bisa dengan mudah menikahi bidadari. Aku hanya si pungguk, merindukan bulan.
---
Ayah, ingatkah saat pertama kita berjumpa? Aku datang maghrib-maghrib, maaf jika kurang sopan waktu itu. Jantungku sontak rasanya copot ketika aku mengucapkan salam, sosok mu yang besar yang muncul dari jendela kaca mobil. Rupanya waktu itu ayah bersiap pergi ke bandara menjemput Ibu.
itu terakhir kalinya aku mengunjungi 'kahyangan' karena hingga kini saat aku hampir mencapai 'kahyangan' lalu pulang ke bumi. dan apa yang tak pernah aku lupakan? Ucapan darimu, "Hati-hati di jalan" yang membuat aku meleleh dan yakin tidak mustahil untuk terbang.
Calon kakek dari anak-anak ku kelak, percayalah anakmu mengenal aku. Aku memilihnya bukan karena dia dari 'kahyangan', melainkan karena dia bisa menerima aku, manusia biasa ini, apa adanya.
---
Itu saja yang ingin aku sampaikan.
Salam untuk anakmu yang paling cantik.
Tertanda,

Manusia lancang yang ingin menjadi anakmu (juga)

0 ocehan:

Poskan Komentar

ShareThis