Tampilkan postingan dengan label pensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

draft ke-2 dari perihal membaca puisi


Ternyata, aku juga mencintai….
Waktu mulai berwarna cokelat, malam hendak tiba
Aku duduk berhadap hadapan dengan mata jendela
Angin bersemilir, kerinduan meradang.
Dari suatu sudut kamar, aku mengadah ke cawan langit.
Memperhatikan setiap lekuk malam.
Kupejam mata, dan stifi terlukis di dalam nya.

Malam ini..
Mungkin aku bisa menitip mata pada burung gereja.
Di langit sebelah mana aku bisa melihat stifi dari kejauhan.
Berjalan sendiri mencari dimana aku.

Pohon-pohon tak berdaun
Rerantingnya seperti tangan-tangan
Berdoa meminta hujan

Dari dulu aku cemburu kepada hujan.
Dia lebih banyak menyentuh nya.
Sementara, aku di balik gerimis.
Menabung detik yang membisu.

Malam tiba, jatuh tepatnya, jatuh di atap bumi.
Aku tak tahu aku mencintai bumi rupanya.
Bisakah seorang bukan petani mencintai bumi?
Aku bukan petani, dulu ayahku melarangku jadi petani
Lalu aku menulis puisi, aku pikir kertas itu juga bumi

Dari mata burung gereja kulihat jalan jalan mengalir
Seperti sungai yang sungguh keruh.
Dan tiba tiba saja aku mencintai sungai
Maupun airnya keruh dan engkau tak disana
Mencuci pakaian kotor dan badanmu disana
Tetapi aku mencintai nya, sangat mencintai nya.
Sebab, ia mengalir seperti waktu dan kehidupan
Aku tahu kalimat ini sudah jutaan kali aku sebutkan
Sebelum, dan sesudah aku mengatakan nya
Tapi, sesekali aku ingin jadi bukan penyair.
Berkata-kata dengan bahasa umum yang basi

Ternyata, langitlah yang menyiramkan warna cokelat.
Tadi siang, aku lihat ia berwarna biru, seperti warna
kemeja berbau peluh yang aku kenakan sekarang
mengalahkan warna pohon hijau disana rupanya

Dan ternyata aku juga mencintai pohon rupanya
aku mencintai pohon saat jatuh ke tanah
dan bayangan nya indah sekali

aku juga mencintai jalan, jalan apa saja,
kecuali jalan didepan kantor gubernur,
ada tanda merah dilarang berhenti disana
tetapi aku paling mencintai sebuah jalan
tak penting betul menyebut nama jalan itu
ia ada di sebuah kota, aku pernah bahagia di jalan itu,
saat itu hujan turun, gerimis, menyelimuti jalan itu
aku tak berlindung, kutadahkan tanganku
kuterima saat dia jatuh.

Jalan itu menuju kampus ku ternyata, kampus
Yang terletak tak jauh dari keramaian ibu kota
Stifi bhakti pertiwi nama nya, dan aku bersama mu
Sedang berdiri disini, dihadapan nya, dihadapan ribuan tanya
Sedang apa dia disana, aku pikir juga begitu
Sedang apa aku disini, memakai pakaian rapi
Dan kalian semua menatapku sepi
Ternyata aku disini, di panggung ini
Seorang yang bahkan tak layak kenakan kemeja berbau peluh
Dan ternyata, saya disini, sedang mencintai stifi rupanya
Tak kusangka, ternyata aku mencintai stifi rupanya.
Mungkin juga kau, dan juga engkau
Tak apa walau hanya kita, tapi kuminta perkenalkan lah ini pada dunia

Kelak saat aku membaca ini. Ribuan tanya diasah
Tajam, dan sedemikian rupa
Tapi, biarlah aku dulu yang bertanya kepada kalian.
Sebuah pertanyaan yang kelak diingat langit, dikenang bumi
“apa hari ini, kau juga mencintai stifi?”

Palembang, 11 juni 2012
Puisi yang baik itu menertawai ketidakmampuan sendiri.
Misalnya ketidakmampuan aku mencintai diriku.

----------------------------------------------------------
draft kedua saya, tentang ketidak mampuan saya menulis puisi
ya, puisi ini gagal saya bacakan dan lebih memilih puisi lain nya.
"dan ketika malam, ketika langit sunyi senyap. kumelihat puisi yang di tertawakan ini menangis dan kembali menjadi tinta"

puisi tentang perihal sederhana


Malam ini aku ingin menjadi kamu

Malam ini…..
aku ingin menjadi kamu
Malam ini tiba tiba aku ingin menjadi kamu
Bercerita tentang apa yang berlintas di pikiran mu kepadaku;

Maka duduklah kita berhadap – hadapan
Dibawah angin malam dan bulan yang saling diperebutkan

Malam ini aku ingin menjadi sudut bibirmu
Yang menyimpan canda, bahagia, dari cerita yang ditorehkan
Cerita yang telah bertahun – tahun kita bangun
Cerita tentang sebuah universitas yang berulang tahun

Siang tadi seorang sahabat menunjukan sepotong gaun wah
Yang akan dipakai nya pada malam yang mewah
Untuk merayakan sebuah pentas seni yang indah
Ulang tahun kampus kami stifi bhakti pertiwi nan megah

Malam ini aku ingin menjadi kamu
Sebuah pilar, atau hanya sebuah mesikuar
Tak apa walau hanya diam,
Setidaknya saya dapat membantu banyak orang;
Nyawa

Apoteker…
Sebuah profesi yang mungkin kau saja tidak tahu,
profesi yang alangkah baik, menyembuhkan orang yang sakit
Malam ini tiba – tiba aku mencintai profesi ini
Profesi yang baru saja aku geluti
Bisakah seorang bukan farmasi mencintai ini?
Dulu, saya kecil tak senang akan obat-obatan
Lalu saya menulis puisi
Aku pikir perasaan senang itu juga obat

Tetapi aku mencintai nya, sangat mencintainya
Sebab, ia mengalirkan waktu dan kehidupan
Aku tahu kalimat ini sudah jutaan kali aku sebutkan
Sebelum, dan sesudah aku mengatakan nya
Tapi, sesekali aku ingin jadi bukan penyair.
Berkata-kata dengan bahasa umum yang basi

Maka disinilah kita,
Mengumpulkan kembali peristiwa-peristiwa ,
Kenangan yang tak pudar dan juga telah disematkan di pikiran

sepuluh tahun terasa hanya beberapa jam,
Terasa bahkan hanya sepejam
Yang kelak indah dimata, dan kujadikan bangga di dada,
Biarlah menjadi bangga di dada.
Bukan! Bukan sebagai membusungkan dada
Namun sebagai degup-degup jantung
Yang mendetakkan bahagia.

Palembang, 16 juni 2012

-----------------------------------------------------------

puisi sederhana ini aku buat di kamar yang berantakan entah apa, saat kulihat dan kubaca bahwa akan adanya pertunjukan pentas seni di kampus ku.
aku men-dedikasi kan puisi ini untuk memeriahkan acara kampus ku, yang telah kutempati satu tahun belakangan ini
juga untuk melatih diriku, 
"ya saya orang yang rumit, sesederhana itu"

ShareThis